Tak ada yang bisa melupakan hari kelam itu, 15 April 1989. Stadion
Hillsborough, Sheffield. Ribuan orang mengalir memasuki tribun belakang
gawang menjelang pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool
melawan Nottingham Forest. Tak ada yang memotong aliran penonton. Tribun
di belakang gawang pada masa itu adalah tribun berdiri alias zonder
tempat duduk. Ini tribun dengan harga tiket paling murah dan biasanya
dijubeli penonton dari kelas pekerja.
Dalam tempo singkat, jumlah penonton di tribun itu melebihi kuota. Orang-orang pun saling gencet. Sebagian berhasil menyelamatkan diri naik ke tribun atas setelah ditarik oleh penonton lain. Sebagian lain kehabisan napas dan tergencet pagar pembatas. Petugas kepolisian tak tanggap. Dalam situasi itu, baru satu ambulans berada di lokasi. Di pengujung hari, kita tahu: 96 orang mati.
Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher dan aparat kepolisian menyalahkan fans Liverpool yang disusupi hooligans alias kaum pengacau sepak bola. Fans Liverpool memang paling mudah menjadi kambing hitam, menyusul kerusuhan Final Piala Champions di Stadion Heysel, Belgia, yang menewaskan 39 fans Juventus pada 1985. Media massa sensasional seperti The Sun ikut memprovokasi dengan judul kepala berita yang menyesatkan, bagaimana suporter Liverpool menyerang petugas medis yang hendak menolong penonton yang sekarat, mencopet dompet para korban, dan mengencingi polisi.
Sebuah panel independen dibentuk. Investigasi mendalam selama bertahun-tahun dilakukan untuk menyelidiki bagaimana 96 orang itu tewas. Kesimpulan diperoleh: tragedi Hillsborough terjadi karena keteledoran aparat kepolisian dalam menjalankan prosedur pengamanan. Hillsborough Independent Panel juga menemukan adanya pemalsuan dokumen laporan berita acara dari kepolisian dan panitia pertandingan.
Namun tak ada satu pun pihak yang bertanggungjawab yang dikenai sanksi. Tak ada permintaan maaf dari pemerintah. Pemerintah Inggris baru meminta maaf 23 tahun kemudian, tepatnya pada 12 September 2012. Di depan parlemen dalam sebuah pidato kenegaraan, Perdana Menteri Inggris David Cameron meneteskan air mata.
"Saya meminta maaf kepada keluarga 96 korban dan untuk mereka yang telah menderita selama 23 tahun ini," katanya. Permintaan maaf Cameron menjadi klimaks pencarian keadilan keluarga korban Hillsborough.
Dua puluh lima tahun berlalu. Tragedi Hillsborough telah memberikan banyak pelajaran bagi pemerintah Inggris untuk mengelola kompetisi sepak bola yang lebih manusiawi. Stadion-stadion dipugar. Tak ada lagi tribun teras atau tribun berdiri. Semua tribun harus dilengkapi tempat duduk dan pagar pembatas penonton dicabut. Liga Inggris pun bertransformasi menjadi liga modern dan lebih menghargai penonton. Sayang, sejak liga modern itu diperkenalkan musim 1992/1993, The Reds belum pernah juara.
Tragedi Hillsborough pun memunculkan rasa hormat dari klub rival, Manchester United. Hal ini diungkapkan Manajer Manchester United Alex Ferguson dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama jurnalis Paul Hayward.
"Rivalitas kami dengan Liverpool sangat intens. Selalu. Tetapi, di balik permusuhan itu ada rasa saling menghormati... Apapun permintaan Liverpool untuk peringatan (Tragedi Hillsborough) itu kami kabulkan, dan kami mengapresiasi usaha mereka."
"Saya jelaskan kepada para pemain saya hari itu--jangan ada perayaan gol yang provokatif, dan kalau melanggar pemain Liverpool, bantu dia berdiri...Sebelum tendangan pembuka, Bobby Charlton (legenda Manchester United) membawa karangan bunga yang dia berikan kepada Ian Rush, yang meletakkannya di monumen peringatan Hillsborough dekat Gerbang Shankly."
Sementara bagi pemain dan suporter Liverpool Football Club, tragedi itu memberikan spirit dan ikatan emosional mendalam. "Ketika kami hening pada pukul 13.36 hari ini, pikiran dan doa kami akan bersama 96 suporter yang menyaksikan kami dari langit. Mereka sumber inspirasi kami," kata Brendan Rodgers, manajer Liverpool, usai mengalahkan Manchester City 3-2 di Stadion Anfield, Minggu (13/4/2014).
Steven Gerrard kehilangan sepupunya Jon-Paul Gilhooley dalam tragedi itu. "Tak ada satu pun orang yang seharusnya kehilangan nyawa atau kerabat dalam sebuah pertandingan sepakbola," katanya dalam buku otobiografi yang ditulisnya bersama Henry Winter dan Paul Joyce, jurnalis Daily Telegraph.
Kita pun melihat Gerrard menangis usai pertandingan melawan City. "Alasan mengapa saya begitu emosional adalah bukan karena ini laga besar musim ini. Tapi karena minggu ini lebih dari sekadar sepak bola. Sangat emosional untuk banyak orang. Kemenangan ini saya dedikasikan kepada korban dan keluarga dari tragedi Hillsborough," kata Gerrard.
Dalam tempo singkat, jumlah penonton di tribun itu melebihi kuota. Orang-orang pun saling gencet. Sebagian berhasil menyelamatkan diri naik ke tribun atas setelah ditarik oleh penonton lain. Sebagian lain kehabisan napas dan tergencet pagar pembatas. Petugas kepolisian tak tanggap. Dalam situasi itu, baru satu ambulans berada di lokasi. Di pengujung hari, kita tahu: 96 orang mati.
Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher dan aparat kepolisian menyalahkan fans Liverpool yang disusupi hooligans alias kaum pengacau sepak bola. Fans Liverpool memang paling mudah menjadi kambing hitam, menyusul kerusuhan Final Piala Champions di Stadion Heysel, Belgia, yang menewaskan 39 fans Juventus pada 1985. Media massa sensasional seperti The Sun ikut memprovokasi dengan judul kepala berita yang menyesatkan, bagaimana suporter Liverpool menyerang petugas medis yang hendak menolong penonton yang sekarat, mencopet dompet para korban, dan mengencingi polisi.
Sebuah panel independen dibentuk. Investigasi mendalam selama bertahun-tahun dilakukan untuk menyelidiki bagaimana 96 orang itu tewas. Kesimpulan diperoleh: tragedi Hillsborough terjadi karena keteledoran aparat kepolisian dalam menjalankan prosedur pengamanan. Hillsborough Independent Panel juga menemukan adanya pemalsuan dokumen laporan berita acara dari kepolisian dan panitia pertandingan.
Namun tak ada satu pun pihak yang bertanggungjawab yang dikenai sanksi. Tak ada permintaan maaf dari pemerintah. Pemerintah Inggris baru meminta maaf 23 tahun kemudian, tepatnya pada 12 September 2012. Di depan parlemen dalam sebuah pidato kenegaraan, Perdana Menteri Inggris David Cameron meneteskan air mata.
"Saya meminta maaf kepada keluarga 96 korban dan untuk mereka yang telah menderita selama 23 tahun ini," katanya. Permintaan maaf Cameron menjadi klimaks pencarian keadilan keluarga korban Hillsborough.
Dua puluh lima tahun berlalu. Tragedi Hillsborough telah memberikan banyak pelajaran bagi pemerintah Inggris untuk mengelola kompetisi sepak bola yang lebih manusiawi. Stadion-stadion dipugar. Tak ada lagi tribun teras atau tribun berdiri. Semua tribun harus dilengkapi tempat duduk dan pagar pembatas penonton dicabut. Liga Inggris pun bertransformasi menjadi liga modern dan lebih menghargai penonton. Sayang, sejak liga modern itu diperkenalkan musim 1992/1993, The Reds belum pernah juara.
Tragedi Hillsborough pun memunculkan rasa hormat dari klub rival, Manchester United. Hal ini diungkapkan Manajer Manchester United Alex Ferguson dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama jurnalis Paul Hayward.
"Rivalitas kami dengan Liverpool sangat intens. Selalu. Tetapi, di balik permusuhan itu ada rasa saling menghormati... Apapun permintaan Liverpool untuk peringatan (Tragedi Hillsborough) itu kami kabulkan, dan kami mengapresiasi usaha mereka."
"Saya jelaskan kepada para pemain saya hari itu--jangan ada perayaan gol yang provokatif, dan kalau melanggar pemain Liverpool, bantu dia berdiri...Sebelum tendangan pembuka, Bobby Charlton (legenda Manchester United) membawa karangan bunga yang dia berikan kepada Ian Rush, yang meletakkannya di monumen peringatan Hillsborough dekat Gerbang Shankly."
Sementara bagi pemain dan suporter Liverpool Football Club, tragedi itu memberikan spirit dan ikatan emosional mendalam. "Ketika kami hening pada pukul 13.36 hari ini, pikiran dan doa kami akan bersama 96 suporter yang menyaksikan kami dari langit. Mereka sumber inspirasi kami," kata Brendan Rodgers, manajer Liverpool, usai mengalahkan Manchester City 3-2 di Stadion Anfield, Minggu (13/4/2014).
Steven Gerrard kehilangan sepupunya Jon-Paul Gilhooley dalam tragedi itu. "Tak ada satu pun orang yang seharusnya kehilangan nyawa atau kerabat dalam sebuah pertandingan sepakbola," katanya dalam buku otobiografi yang ditulisnya bersama Henry Winter dan Paul Joyce, jurnalis Daily Telegraph.
Kita pun melihat Gerrard menangis usai pertandingan melawan City. "Alasan mengapa saya begitu emosional adalah bukan karena ini laga besar musim ini. Tapi karena minggu ini lebih dari sekadar sepak bola. Sangat emosional untuk banyak orang. Kemenangan ini saya dedikasikan kepada korban dan keluarga dari tragedi Hillsborough," kata Gerrard.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar